Cara Mengolah Sabut Kelapa Menjadi Kerajinan

Hampir semua bagian pohon kelapa dapat bermanfaat bagi manusia, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya. Bahkan bagian buah kelapa seperti batok dan sabut  kelapa memiliki banyak manfaat. Bagaimana cara mengolah sabut kelapa menjadi kerajinan? yuk kita simak informasi lengkapnya berikut ini!

Sabut kelapa seringkali dibuang tanpa diolah menjadi lebih bermanfaat. Namun, sebenarnya sabut kelapa dapat digunakan sebagai kayu bakar ataupun beberapa produk kerajinan yang bermanfaat. Untuk dijadikan bahan kerajinan, sabut kelapa perlu melalui tahap pengolahan terlebih dahulu.

Proses pemisahan sabut kelapa (epicarp dan mesocarp) menghasilkan serat sabut kelapa (coco fiber). Sabut kelapa bisa didapatkan dari limbah pengolahan kopra, minyak kelapa, dan penjual minuman kelapa muda.

Artikel Lainnya : 7 Manfaat Air Kelapa Muda untuk Wajah

Pada proses pengolahan sabut kelapa ini mengasilkan produk samping yaitu serbuk sabut (gabus) yang nantinya bisa diolah menjadi pupuk kompos, papan partikel (hardboard), dan cocopeat. Serat inilah yang dicari di pasaran untuk dijadikan sebagai bahan baku furnitur, jok mobil, matras, pot, dan geotekstil.

Permintaan produk sabut kelapa di pasar ekspor maupun domestik memiliki jumlah besar. Sebelum terjun ke bisnis sabut kelapa, Anda harus mengaetahui cara pengolahan sabut kelapa yang benar.

Jika dimanfaatkan secara maksimal, sabut kelapa dapat membawa keuntungan yang besar bagi Anda, banyak pengusaha telah membuktikan keuntungan yang didapatkan dari pengolahan sabut kelapa menjadi produk-produk yang bermanfaat.

Cara Mengolah Sabut Kelapa

Mengolah Sabut Kelapa Menjadi Peluang Bisnis Yang Menguntungkan

Persiapan

Tahap persiapan dilakukan dengan cara memotong sabut kelapa kelapa yang masih utuh membentuk memanjang dan dibagi menjadi sekitar lima bagian, lalu bagian ujungnya yang keras dipotong. Setelah itu, sabut kelapa direndam selama kurang lebih 3 hari agar bagian gabusnya membusuk dan mudah lepas dari seratnya.

Pelunakan

Proses pelunakan sabut bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu cara tradisional dan cara modern. Cara tradisional dilakukan dengan cara memukul sabut kelapa dengan palu agar sabutnya menjadi lebih terurai. Pada tahapan ini akan dihasilkan produk samping berupa butiran gabus. Sedangakan dengan cara modern, proses pelunakan sabut kelapa dilakukan dengan menggunakan hammer mill atau mesin pemukul.

Pemisahan

Sabut kelapa kemudian dimasukkan ke dalam defibring machine atau mesin pemisah serat untuk memisahkan bagian seratnya dari gabus. Komponen utama pemisah serat pada mesin ini yaitu silinder yang permukaannya diisi dengan gigi logam yang berputar untuk memukul dan menggores sabut sehingga bagian-bagian serat bisa terpisah. Pada tahapan ini, menghasilkan produk sampingan berupa butiran gabus.

Penyortiran

Sabut kelapa yang telah terpisah dari bagian gabus ini selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin sortir untuk memisahkan serat halus dan serat kasarnya. Mesin sortir atau ayakan (refaulting screen) ini berupa saringan berbentuk kerucut yang berputar. Proses penyortiran dan pengayakan ini juga dilakukan pada butiran gabus secara manual dengan menggunakan saringan, sehingga dihasilkan butiran gabus yang halus.

Setelah itu, dilakukan proses pembersihan untuk memisahkan bagian gabus yang masih tertempel pada serat halusnya. Tahapan ini biasanya dilakukan secara manual. Kualitas serat sabut tergantung pada tingkat kekeringan serat dan butiran gabus. Proses pengeringan dilakukan dengan cara dijemur atau dengan menggunakan alat pengering.

Pengemasan

Sabut kelapa yang telah bersih dan kering kemudian dikemas menggunakan alat press. Biasanya sabut kelapa dikemas dalam ukuran 90 cm x 110 cm x 45 cm. Secara manual, proses pemadatan sabut kelapa dilakukan dengan cara diinjak dan bisa menghasilkan berat sekitar 40 kg pada setiap kemasan.

Sementara itu, cara modern dilakukan dengan penggunaan mesin press berat dan menghasilkan berat setiap kemasan hingga mencapai 100 kg. Untuk bubuk sabut, bisa dikemas dengan menggunakan karung, dan setiap karung biasanya berisi sekitar 100 kg.

Selanjutnya, sabut kelapa pun bisa dipasarkan. Sabut kelapa ini nantinya bisa dijadikan dalam berbagai bentuk produk dan kerajinan, salah satunya yaitu cocomesh atau jaring serabut kelapa. Cocomesh biasa digunakan sebagai media tumbuh tanaman, pencegah erosi, reklamasi bekas tambang, penguatan tebing, penguatan tanah, dan lain sebagainya.

Simak informasi lengkap mengenai cara produksi cocomesh dengan mengikuti workshopp yang diadakan oleh Rumah Sabut.