Film Under The Skin (2013) : Kisah Binal Alien Wanita Di Bumi

Siapa yang nggak kenal dengan Scarlet Johanson, si aktris dengan wajah cantik dan tubuh seksi. Walaupun bukan mengangkat cerita tentang hubungan asmara, tapi ada beberapa adegan vulgar di dalamnya.

Banyak yang tertarik dengan film ini karena keseruan adegannya, tapi banyak juga tertarik dengan adegan vulgar si pemeran utamanya.

  • IMDb Score:6.3
  • Rotten Tomatoes:85%
  • Tanggal rilis: 14 Maret 2014 (Britania Raya)
  • Sutradara: Jonathan Glazer
  • Box office: 5,2 juta GBP
  • Musik digubah oleh: Micachu
  • Nominasi: Empire Award untuk Film Horor Terbaik

 

Sedikit spoiler dari film semi terbaru 

Bayangkan sebuah ruangan kosong nan gelap, kemudian nampak Scarlet Johansson, hanya mengenakan bra dan celana dalam warna hitam, berdiri dengan senyum menggoda. Lalu ada seorang pemuda – tidak sabar untuk segera begituan, berdiri dengan senyum gembira. Kamu mungkin menganggap pemuda itu adalah the luckiest bastard in the world, sampai kemudian nona Scarlet berbalik dan berjalan pelan, dan sang pemuda mesum – setelah melepas celananya – berjalan mengikutinya. Ruangan tetap gelap, kamu tidak melihat ranjang, tepatnya kamu tidak menemukan apapun. Kamu mendengar musik, sounds really haunting and creepy. Kamu segera tahu cerita ini tidak akan berakhir seperti lagu Daft Punk dan Pharrel William. Ini adalah alien sedang memangsa manusia di jebakan mautnya.

Yeah, alien. Cerita mengenai alien mungkin terdengar begitu cheesy, dan membaca sinopsis Under the Skin boleh jadi mengingatkanmu pada film tahun 1995 – Species (tentang seorang alien berwujud wanita seksi yang mencari pria bumi untuk dikawinin).

 

Tema ini terbilang sudah klise dan murahan, namun di tangan Jonathan Glazer, yang feature film terakhirnya adalah Birth di tahun 2004 yang kontroversial itu, dan merupakan sutradara video klip band-band absurd macam Radiohead dan Massive Attack , Under the Skin berubah menjadi semacam arthouse movie – atau bolehlah saya katakan sebuah experimental movie.

Menonton Under The Skin jelas butuh sedikit perjuangan. Butuh mood ekstra sabar untuk menontonnya. Under The Skin jelas tidak dinarasikan dengan cukup lugas. Kamu akan menemukan banyak kebingungan tentang apapun. Tentang siapa sesungguhnya wanita misterius yang diperankan Scarlett Johansson, tentang sedang apa dia di bumi, tentang kenapa dia memangsa manusia – dan naskah yang digarap oleh Jonathan Glazer dan Walter Campbell yang diadaptasi bebas dari novel Under The Skin oleh Michael Faber tidak memberikan clue-clue yang gamblang.

Semuanya absurd- bahkan hingga akhir film. Dari sini saja sudah jelas bahwa film ini memang bukan film semua orang. Mungkin hanya beberapa orang saja yang akan cukup menyukainya. Sebagian besar akan merasa film ini membosankan, dan hanya menikmati adegan naked-nya Scarlett Johansson saja.

Under The Skin bergerak dengan cukup lambat. Jonathan Glazer dengan tekun mengajak kita untuk mengikuti alien yang sedang semacam travelling ke bumi. Ada banyak adegan yang diulang, dan adegan – adegan yang tidak menarik (adegan – adegan ini cukup penting, tapi mungkin memang tidak terlalu menarik).

 

Tidak akan ada banyak percakapan dan tidak ada adegan aksi, separuh film hanya tentang si alien berputar-putar dengan mobil vannya. Dalam adegan misi hunting si alien, Jonathan Glazer menggunakan hidden camera di dalam van, dan kabarnya aktor-aktor di film ini semuanya orang biasa dan percakapannya nyata, membuat efek realistisnya makin terasa.

 

Opening scene-nya mengingatkan saya pada 2001: A Space Odyssey-nya Stanley Kubrick – yang artinya cukup absurd dan gag jelas, but epic! Film ini sendiri begitu kaku, sunyi dan dingin dengan sinematografi yang cantik. Tapi itu semualah yang membuat kesan yang didapatkan begitu kuat dalam membangun ketegangan yang mencekam bagi penonton.

For me, the most memorable scene adalah adegan si alien “memanen” pria- pria di semacam killing nest-nya. So thrilling and artistic!

Saya sendiri tidak akan mengatakan bahwa Under The Skin diisi simbolisme-simbolisme tertentu. Hal yang berbeda sebagai contoh dengan apa yang dilakukan David Lynch di Blue Velvet – yang bisa saya maknai dan gali lebih dalam.

Under The Skin memang cukup sureal, tapi saya rasa apa yang dilakukan Jonathan Glazer adalah sekedar memberikan semacam experimental experience mengenai sebuah tema science-fiction yang klise, tanpa dipenuhi metafora-metafora mengenai “kemanusiaan” atau apalah.