Siapkah saya menjadi dokter?

Kesiapan seseorang menjadi dokter itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Setelah menjalani berbagai macam ujian dan rintangan dalam pendidikan dokter lah seseorang dapat menjadi siap dengan segala tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada seorang dokter.

Berikut beberapa tips yang bisa saya bagikan untuk memantapkan strategi kamu menjadi dokter yang handal di masa depan. namun sebelum itu , buat anda yang baru merencanakan ikut seleksi kedokteran saran saya cobalah mengikuti Bimbel jaminan masuk Kedokteran PTN UI UNPAD terbaik

1. Kecerdasan bukanlah penentu, Mental jauh lebih penting!

Kamu bisa saja super duper jenius dan hanya butuh 1x baca bahan belajar untuk memahami seluk-beluk ilmu kedokteran. Tapi itu tidak cukup mengantarkan kamu lulus pada semester pertama jika tidak punya mental yang kuat.

Ritme perkuliahan Kedokteran sangat padat. Tekanan belajar tinggi. Saya sendiri pernah liat mahasiswa Kedokteran dengan track record prestasi yang biasa saja ketika SMA, tapi bisa lulus tepat waktu. Mental dan niatnya yang kuat membuat dia mampu mendorong diri untuk tidak hanya bergantung pada label kecerdasan semata. Di sisi lain, tidak sedikit mahasiswa kedokteran yang punya prestasi cemerlang semasa SMA, tetapi memilih pergi karena tekanan yang terlalu besar di Sekolah Kedokteran.

Satu hal penting yang juga sering terlewatkan, seorang dokter harus tegaan (dalam arti mental yang kuat)Tidak jijik saat melihat darah, anggota tubuh yang terlepas, isi tubuh manusia yang terurai, pasien yang sedang meregang nyawa, dan hal-hal tak terbayangkan lainnya. Untuk kamu yang sekarang melihat darah karena luka tergores aja udah takut atau lemes, lebih baik pikir-pikir lagi apakah jalan hidup seorang dokter adalah pilihan yang tepat buat kamu.

2. Menjadi “dokter” bukan menjadi “penolong”

Ada satu catatan tentang realita dunia Kedokteran yang harus kamu pahami:

Seorang dokter bukanlah seorang penolong yang memiliki kemampuan luar biasa. Dokter ibaratnya suatu workstation, di mana sebuah infrastruktur (dalam konteks ini, sistem kesehatan) bisa bekerja. Memang benar bahwa dokter berada di pusat sistem kesehatan, di mana semua keputusan diagnostik dan pengobatan berada di tangannya. Tapi seorang dokter tanpa infrastruktur tidak akan bisa mendiagnosis secara akurat. Kalian tidak bisa menolong siapa-siapa sendirian. Seorang dokter sangat terikat dengan profesi-profesi lain dan sistem kesehatan yang ada. Seorang dokter juga harus berpegang teguh terhadap keilmuan yang baku dan koridor yang sudah ditetapkan oleh sistem rumah sakit dan pemerintah.

Ketika harus bekerja sesuai koridor, seorang dokter kadang menemukan konflik moral, seperti:

  • “Dititipin” oleh Medrep (pihak marketing perusahaan farmasi) untuk resepin obat yang sebenarnya efisiennya masih dipertanyakan atau efisiensinya sama kayak obat generik. Bisa saja menolak, tapi pemasukan si dokter jadi berkurang dan hubungan ke depannya dengan produsen obat jadi ga enak.
  • Ada pasien butuh operasi segera usus bantu. Tapi pasiennya adalah orang yang ga punya uang, pakai BPJS harus ngantri lama padahal pasien harus segera ditangani. Di situ si dokter harus bikin keputusan. Bisa aja bantuin langsung, tapi jasa operasinya TIDAK DIBAYAR dan obat yang diberikan ke pasien adalah obat murah atau tidak sesuai dosis. Wah, berarti dokter tidak bisa menolong pasien kurang mampu dong? Ya bisa saja, dan kadang ada saja dokter yang ikhlas melakukan hal ini, tapi ya dia juga harus siap menerima konsekuensinya, minimal ya rela melakukan operasi tanpa dibayar.
  • Dll

Pada intinya, kamu tidak bisa bekerja di luar sistem dan semudah itu menjadi “penolong” heroik seperti yang mungkin kamu bayangkan. Kamu akan bekerja dan merawat pasien berdasarkan data dan statistik, bukan alasan personal.

Saya lihat ada dokter yang mencari kemapanan dulu, baru bisa sedikit “leluasa” membantu pasiennya. Ada pula dokter yang memang dari awal memilih hidup sederhana dan mendedikasikan hidupnya untuk menolong pasien. Pada akhirnya, kembali lagi ke pilihan hidup masing-masing.

3. Jangan (semata) mencari kemakmuran di sini

“Enak ya jadi dokter. Cuma periksa sebentar, nulis resep 5 menit, dibayar ratusan ribu. Gue mau jadi dokter ah. Biar cepet kaya.”

Maaf, kamu baca sendiri kan di atas, durasi pendidikan dokter itu lama banget! Ga bener kalo kamu mau cepat kaya dengan menjadi dokter. Kalo pun kamu mau jadi kaya dengan jalan menjadi dokter, harus jadi dokter spesialis dulu. Untuk menjadi seorang dokter spesialis, dibutuhkan modal yang sangat besar. Selain itu masa studinya juga tidak sebentar.

Kalo kita bicara 30-50 tahun lalu, memang betul bahwa dokter secara rata-rata lebih makmur dibandingkan dengan rekan-rekannya di profesi lain. Tapi lain cerita dengan masa sekarang. Jika kamu berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah, menjadi dokter memang bisa menaikkan derajat ekonomimu menjadi kelas menengah. Namun pada umumnya, percayalah banyak pekerjaan di zaman sekarang yang bisa mendatangkan uang dan kemakmuran lebih banyak dan lebih cepat dari profesi dokter.

Tambah lagi, jalan menjadi dokter di Indonesia sedang sulit. Profesi dokter memiliki risiko tinggi dan proteksi hukum pada dokter yang terkena kasus dugaan malapraktik masih banyak yang simpang siur. Pemberitaan di kasus malapraktik di media membuat masyarakat menghakimi dokter bahkan sebelum kasusnya selesai diinvestigasi. Satu kasus saja cukup untuk membuat karir kamu tamat dan hidup kamu bermasalah sampai akhir hayat.

4. Cari Skill Lain

Saya pribadi sangat merekomendasikan kamu tetap bereksplorasi mempelajari keahlian lain, bahkan setelah kamu menjadi seorang dokter. Entah itu menjadi entrepreneur, fotografer, atau keahlian lainnya yang bisa menopang hidup kalian selain menjadi dokter. Menjadi dokter jaman sekarang itu ga gampang. Ada baiknya mempersenjatai diri sedini mungkin.

***

Oke deh, sekian dulu cerita panjang lebar saya. Semoga teman-teman bisa lebih cermat mengambil keputusan sekarang apakah akan tetap mau menjadi seorang dokter atau ternyata merasa tidak akan cocok atau tidak tahan dengan ritme yang harus dijalani seorang dokter. Sekali lagi, saya share cerita ini bukan untuk mematahkan semangat kamu untuk jadi dokter. Saya hanya ingin memberikan gambaran realita yang ada agar kamu bisa lebih matang untuk melihat segala konsekuensi yang akan kamu hadapi dalam pendidikan kedokteran. Dengan begitu, kamu juga jadi lebih strategis lagi dalam meraih dan menjalani cita-citamu. Semangat untuk seleksi masuk universitasnya dan good luck ya